SINTANG, KR – Memasuki H-17 Idul Fitri 2026 atau hari ke-14 Ramadan, Pemerintah Kabupaten Sintang memanggil para pengusaha telur, daging, dan sembako untuk memastikan ketersediaan stok serta stabilitas harga. Pertemuan digelar pada Selasa, 3 Maret 2026, di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang.
Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, Helmi, menjelaskan bahwa rapat digelar lebih awal agar pemerintah daerah memperoleh gambaran menyeluruh terkait stok, harga, serta kendala yang dihadapi pelaku usaha.
“Dengan demikian, jika ada masalah yang dihadapi, Pemkab Sintang bisa membantu dan mengambil kebijakan untuk mengatasinya. Target kita stok sembako dan daging cukup, serta harganya tetap stabil,” ujar Helmi.
Pimpinan Keling Kumang Agro, Itoy Thomas Aquino, menyebutkan pihaknya memiliki 16.000 ekor ayam petelur dengan produksi mencapai 13.600 butir per hari atau sekitar 408.000 butir per bulan. Selain itu, pihaknya juga membina peternak di 21 desa dengan total 13.000 ekor ayam yang telah disebar.
“Harga telur saat ini Rp2.100 per butir, tetapi kemungkinan akan naik karena harga pakan meningkat dan truk ekspedisi kesulitan mendapatkan solar,” jelas Itoy.
Sementara itu, pengusaha sapi potong, H. Ahmad Prayogo, mengingatkan potensi berkurangnya populasi sapi lokal. Ia menyebutkan sekitar 80 persen sapi yang dipotong saat ini merupakan sapi betina produktif yang seharusnya tidak disembelih.
“Analisa saya, dua sampai tiga tahun ke depan sapi lokal Sintang bisa habis. Karena itu saya harus mendatangkan sapi dari Bali dan NTB dengan harga yang lebih tinggi,” ujarnya.
Pemilik Agen Sembako PT Sarana Makmur Sentosa mengeluhkan keterbatasan stok beras dan minyak goreng akibat kendala bongkar muat kontainer di Pontianak serta sulitnya mendapatkan solar untuk distribusi.
Di sisi lain, Abun, agen daging beku, menyampaikan bahwa stok sempat kosong di awal Ramadan, namun kini sudah tersedia dan dipastikan cukup hingga Idul Fitri 2026 dengan harga Rp120.000 per kilogram.












