SINTANG, KR — Pemerintah Kabupaten Sintang menyatakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah menetapkan wilayah tersebut sebagai salah satu lokasi pengembangan bawang putih nasional. Program itu kini memasuki tahap persiapan di tingkat daerah.
Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Kartiyus, saat memberikan arahan dalam rapat koordinasi penyusunan rencana aksi pembangunan dan pengelolaan kawasan perbatasan, Selasa, 28 April 2026.
Menurut Kartiyus, pemerintah daerah menyambut rencana tersebut, meski terdapat sejumlah persyaratan teknis yang harus dipenuhi, terutama terkait ketinggian lahan.
“Kami menyambut baik program ini. Namun ada syarat teknis, yakni lahan harus berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Karena itu, kami sedang melakukan survei ke sejumlah lokasi yang memenuhi kriteria tersebut, termasuk di kawasan perbatasan,” ujarnya.
Ia menyebutkan target pengembangan bawang putih di Kabupaten Sintang mencapai 5.000 hektare. Beberapa wilayah perbukitan, seperti di Desa Mungguk Gelumbang hingga Desa Nanga Bayan, dinilai berpotensi menjadi lokasi pengembangan.
Kartiyus menjelaskan varietas yang akan dikembangkan terdiri atas tujuh jenis, yakni lima varietas asal Cina dan dua varietas dari India. Ia juga membuka peluang bagi pemerintah desa untuk mengusulkan lokasi yang sesuai.
“Jika ada informasi lahan di wilayah perbukitan yang memenuhi syarat, kami harapkan kepala desa dapat menyampaikannya,” kata dia.
Ia menambahkan, pengembangan bawang putih di luar Pulau Jawa menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat mengurangi ketergantungan impor, yang selama ini masih didominasi pasokan dari Cina.
Selain itu, Kementerian Pertanian juga akan menyiapkan dukungan sarana produksi, termasuk pembangunan fasilitas pupuk yang disesuaikan dengan karakteristik tanah di Kalimantan.
Kartiyus mengatakan, pemerintah pusat juga tengah menyiapkan varietas bawang putih yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan dengan ketinggian lebih rendah, sekitar 200–300 meter di atas permukaan laut.
Adapun target produktivitas di Kalimantan Barat diperkirakan mencapai 3 ton per hektare. “Hasil panen nantinya sebagian dijual dan sebagian lagi digunakan sebagai bibit untuk siklus tanam berikutnya,” ujar Kartiyus.












