SINTANG, KR – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi selama empat hari terakhir di Kabupaten Sintang memicu teguran keras dari Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, kepada jajaran Pertamina.
Bupati Bala mendesak Pertamina segera mengambil langkah cepat agar krisis distribusi tidak kembali terulang.
Hal itu disampaikan Bupati saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2026 menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional di Pendopo Bupati Sintang, Jumat (13/2/2026).
Hadir dalam rapat itu Kepala Depot Pertamina Sintang Rizky Firmansyah dan perwakilan Pertamina Patra Niaga, Bisma Abdillah.
Kepala Depot Pertamina Sintang Rizky Firmansyah menjelaskan, stok Pertalite dan Pertamax di Depot Sintang menipis akibat kapal tugboat pengangkut BBM hanya dapat berlayar sampai Sanggau. Pendangkalan Sungai Kapuas akibat berkurangnya debit air membuat kapal tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Sintang.
Akibat kondisi tersebut, SPBU di Sintang terpaksa mengambil pasokan BBM menggunakan truk tangki dari Pontianak.
“Kami sudah mengajukan pembangunan supply point di Sanggau, tetapi belum terealisasi. Seandainya supply point di Sanggau sudah beroperasi, dalam kondisi kemarau SPBU bisa mengambil BBM dari Sanggau, bukan Pontianak,” ujar Rizky.
Mendengar penjelasan itu, Bupati Sintang menyayangkan belum dibangunnya supply point di Sanggau, padahal persoalan pendangkalan Sungai Kapuas bukan hal baru dan kerap terjadi setiap musim kemarau.
“Dangkalnya Sungai Kapuas ini bukan hal baru. Seharusnya pengajuan dan pembangunan supply point di Sanggau sudah dilakukan sejak lama. Saya minta Pertamina lebih serius dan lebih keras berupaya membangunnya. Ini masalah yang berulang setiap tahun,” tegas Bala.
Ia juga menekankan bahwa kelangkaan BBM tidak boleh kembali terjadi. Menurutnya, Pertamina seharusnya memiliki strategi antisipatif ketika curah hujan menurun dan debit air sungai berkurang.
“Musim seperti ini terjadi setiap tahun dan tidak datang tiba-tiba. Kalau seminggu tidak ada hujan, seharusnya sudah ada langkah antisipasi. Jangan menunggu kemarau panjang baru bergerak,” ujarnya.
Bupati mengungkapkan, kelangkaan BBM telah memicu antrean panjang di sejumlah SPBU hingga 1–2 jam, yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat.
“Proses ekonomi terganggu. Kerugian masyarakat sudah berapa? Ini tidak bisa dianggap biasa,” katanya.
Ia juga menyebut adanya elemen masyarakat yang berencana melakukan aksi demonstrasi akibat kelangkaan tersebut.
“Sebenarnya ada masyarakat yang ingin demo, tapi saya tahan dulu. Saya ingin menjaga semuanya, termasuk reputasi Pertamina. Tapi saya juga punya keterbatasan untuk terus menahan masyarakat,” ujarnya dengan nada tinggi.
Bupati menegaskan Pemerintah Kabupaten Sintang siap membantu memenuhi persyaratan administrasi maupun dukungan lain yang dibutuhkan Pertamina, termasuk percepatan pembangunan supply point di Sanggau.
“Kalau ada persyaratan yang harus dipenuhi pemerintah daerah, sampaikan. Kami siap bantu. Asal distribusi BBM lancar dan kejadian ini tidak terulang,” pungkasnya.












