SINTANG, KR – Pemerintah Kabupaten Sintang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar Sosialisasi Peningkatan Kesiapsiagaan terhadap Bencana Gempa Bumi di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Sintang, Selasa (14/4/2026).
Kegiatan ini dibuka oleh Bupati Sintang yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Keuangan, Helmi, serta menghadirkan narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala BPBD Kabupaten Sintang, Kusnidar mengatakan bahwa gempa bumi kini menjadi perhatian serius di Kabupaten Sintang, karena sebelumnya fenomena tersebut jarang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Kalau banjir dan karhutla itu sudah biasa kita alami. Tapi sekarang kita dihadapkan dengan gempa bumi, yang sebelumnya mungkin hanya kita lihat di media sosial,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sepanjang Januari hingga Maret 2026, gempa bumi tercatat terjadi di Kecamatan Sintang dan Kayan Hilir. Pada Januari, gempa terjadi di Kelurahan Ladang serta di Desa Nyangkom, Mekar Mandiri, dan Nanga Tikan. Kemudian pada 13 Maret 2026, gempa kembali terjadi di wilayah Nyangkom, Jaya Sakti, serta Tanjung Puri.
“Gempa ini bahkan menyebabkan kerusakan pada bangunan dan jembatan. Ini menjadi perhatian kita bersama, sehingga perlu pemahaman yang benar terkait bencana gempa bumi,” tegas Kusnidar.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dasar dilaksanakannya sosialisasi guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi gempa di masa mendatang.
“Melalui sosialisasi ini, kita harapkan masyarakat lebih paham risiko gempa, tahu langkah mitigasi sebelum, saat, dan setelah kejadian, serta tidak menimbulkan kepanikan berlebihan,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan mandiri agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal saat terjadi bencana.
Dalam kesempatan tersebut, Kusnidar juga menyoroti bahwa fenomena gempa terjadi hampir setiap hari di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan yang selama ini dianggap relatif aman.
“Walaupun kita jauh dari gunung berapi, gempa tetap bisa terjadi. Karena itu kita perlu pemahaman bersama agar tidak awam ketika menghadapi kondisi ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Sintang, Helmi dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan saat menghadapi bencana.
Ia juga berharap seluruh stakeholder hingga tingkat kecamatan dapat menjadi penyambung informasi yang benar kepada masyarakat.
“Tentu dengan adanya pemahaman yang baik, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan eksternal saat kondisi darurat, sekaligus memperkuat respon cepat di tingkat lokal,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Sintang juga, kata dia mengingatkan potensi bencana lain, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seiring prediksi puncak El Nino pada Agustus 2026 mendatang.












